SOLUSI SEHAT DENGAN SELAC - HOLISTIK - EFEKTIF - ALAMIAH - AMAN

Senin, 11 September 2017

Stroke sudah 1 minggu, tidak bisa jalan bila tanpa tongkat, bagaimana solusinya



Sabtu 9 September 2017, jam 10. 45, dikunjungi S, laki, 65 thn, Jakarta, dengan menggunakan tongkat jemuran kruk agar bisa terbantu untuk melangkah, berjalan, karena kaki kiri sudah tidak bisa berfungsi, tidak ada tenaga, akibat sudah seminggu menderita stroke. Beliau diantar dan didampingi Pak Budhiono Soemantri (sobat FB) mantan pasien saya 4 tahun yang lalu, pernah menderita stroke juga (sekarang sudah pulih). Saya sebagai praktisi terapis/pengobat, menyadari bahwa kemampuan alat terapi maupun pengetahuan/pengalaman tata cara terapi sebenarnya sudah jauh berkembang dibanding 4 tahun lalu, karena improvement SELAC Therapy berjalan terus, learning by doing…. 

Namun dengan hati-hati saya katakan bahwa dengan kondisi waktu stroke yang dialami penderita S , telah berlangsung seminggu sebenarnya sudah terlambat (resiko bisa cacat) untuk bisa mendapatkan bantuan pemulihan yang efektif dan optimal, karena golden period sekitar 4 jam setelah kena stroke (saya sendiri sudah pernah pengalaman 4x kena stroke). Tetapi saya katakan lagi, tidak perlu cemas, akan saya usahakan bantu melakukan terapi dengan pengetahuan dan pengalaman terbaik yang saya punyai saat ini. Kemudian segera saya periksa kondisinya dengan komputer, juga saya periksa status lidahnya, dan status tekanan darahnya sistolik 184 (tinggi), diastolik 87, nadi 91. Setelah itu dilanjutkan mulai melakukan terapi setrum (SELAC Therapy) didaerah kepala, untuk memperbaiki sirkulasi otak. Stroke adalah serangan otak, bila otak terganggu (sebagai pusat saraf tubuh) pada bagian sebelah kanan maka resikonya tubuh kiri sarafnya akan terganggu . Jadi artinya, bila sirkulasi otak tidak dibenahi terlebih dahulu, maka penderita stroke tidak akan pulih. Terapi berlangsung 30 menit. Alhamdulillah, setelah selesai terapi yang pertama kali penderita stroke sudah bisa berjalan tanpa bantuan tongkat jemuran kruk, walaupun belum sempurna, kelihatan prospek pemulihannya efektif. Pada hari Sabtu tersebut, dilakukan terapi 3x. Jeda waktu masing2 setelah terapi keterapi berikutnya adalah 2 jam. Setelah terapi pertama, diberikan asupan herbal sesuai kebutuhan kasus tubuh. 

Besoknya hari Minggu 10 September pengobatan/terapi dilanjutkan dengan memeriksa gula darah puasa terlebih dahulu , jam 09.18 levelnya 85 mg/dL, tekanan darah sistolik 150 (tekanan turun), diastolik 80 (tekanan turun), dan nadi 69 (nadi normal). Dua jam setelah makan, jam 11.21 diperiksa lagi level gula darahnya 143 mg/dL (penderita stroke sebelumnya juga menderita diabetes). Hari Minggu ini terapi stroke dilanjutkan sebanyak 2x terapi. Jadi pada hari Sabtu dan Minggu terapi stroke yang sudah dilaksanakan sebanyak 5x terapi (dua hari). Alhamdulillah, yang bersangkutan sudah bisa berjalan kembali, karena kaki kiri yang lemah tanpa tenaga sudah berfungsi kembali, semua proses alamiah, efektif, tanpa sakit, dan aman. Semoga cerita kasus stroke ini akan bermanfaat buat sobat-sobat , untuk menularkan kesehatan pada kasus stroke, dan juga sebagai second opinion. Salam sehat dari Ir. H. Ansuska Gumanti, 0812 2024 270/0818 43 7557.

Jumat, 08 September 2017

Rematik jari tangan saya recovery, hanya dengan lalapan pete.

Awal bulan Agustus 2017, saya mulai merasakan hari-hari yang tidak nyaman karena gangguan pada jari jemari saya. Setiap bangun dipagi hari jari telunjuk tangan kanan terlipat dan kaku , harus diluruskan dengan dibarengi rasa nyeri yang lumayan. Sedangkan ibu jari tangan kiri kaku, tidak bisa ditekuk, nyeri dan tidak bertenaga bila difungsikan, dan nyeri sekali bila tersentuh (CTS, Carpal Tunnel Syndrome).

Gangguan ini tentu tidak datang tiba-tiba, tetapi dengan tahapan waktu proses perjalanan penyakit rematik yang dipicu oleh pola hidup (makanan, olahraga tidak teratur dan sebagainya) serta perjalanan usia yang makin uzur. Tambahan lagi ada benjolan keras yang mulai nyeri sebesar kacang tanah didaerah pergelangan kaki sebelah kiri yang baru saya sadari entah sejak kapan terjadinya.

Biasanya solusinya dengan terapi setrum, tapi saya ingin mencoba dengan solusi asupan pete saja (sebagai pengobat/terapis, saya sudah tahu khasiat pete). Pete (Parkia speciose Hort/Hassk) banyak mineralnya, bergizi, dan berkalori, serta berkhasiat obat. Tiap hari saya makan lalapan pete segar dengan sambal (pete dengan kulitnya). Sebelumnya pete dicelupkan pada air mendidih sekitar 30 detik, agar bersih dari bakteri, kemudian dipotong-potong siap untuk dimakan.  Saya konsumsi saat makan pagi 1 papan, dan saat makan malam 1 papan. Alhamdulillah, setelah 3 minggu konsumsi pete, semua keluhan saya tersolusi, baik rematik pada jari-jari tangan maupun benjolan keras pada daerah pergelangan kaki kiri sudah recovery. Saya periksa level asam urat saya pagi ini, Jum’at 8 September 2017, jam 05.54, levelnya 6,4 mg/dL (laki 3,5 – 7,2 mg/dL).

Rupanya kandungan mineral yang ada pada pete memang ampuh mengurai pengkristalan (asam urat) yang terjadi pada kasus rematik. Pete mudah sekali ditemukan di Indonesia (di pasar-pasar), makanan bergizi, berkalori, hanya baunya kurang sedap, jadi tidak semua orang suka, tapi ampuh untuk rematik (pemulihan alamiah, tanpa efek samping). Semoga sharing pengalaman saya ini akan bermanfaat buat sobat-sobat yang menderita rematik, baik yang baru maupun yang sudah lama. Salam sehat.

Contact Person : Ir. H. Ansuska Gumanti, 0812 2024 270, 022-710 1921

Minggu, 03 September 2017

Retinitis Pigmentosa (RP) , perbaikan metoda terapi.

Pengamatan dan pengalaman dalam mengobati kasus mata Retinitis Pigmentosa (RP) sejak tahun 2012, dengan metoda SELAC (Sinusoidal Electro Acupressure) Therapy, semakin berkembang dan lebih efektif hasilnya, terutama sekali sejak perbaikan metoda terapi pada awal Juli 2017, yaitu perbaikan pada alat terapi , dan perbaikan pada cara-cara terapi yang lebih efektif (improvement).

Sejak awal Juli 2017 terapi RP tidak menggunakan jari lagi, tetapi langsung menggunakan Microcurrent Pen. Keuntungannya, energi yang disalurkan ke pasien menjadi 2x lipat, lebih fokus, dan tidak sakit ataupun berbekas. Pengamatan dari Juli-Agustus 2017 (selama 2 bulan) efektifitas perbaikan hasil terapi untuk RP meningkat, sehingga recovery penglihatanpun menjadi lebih cepat, tergantung keparahannya kasus RP.

Berdasarkan pengamatan kami , pertama kali di terapi , sudah mulai terjadi proses perbaikan, seperti berkurangnya kekaburan penglihatan, adaptasi terang-gelap lebih baik, silau terhadap cahaya matahari berkurang, pusing atau sakit karena cahaya mataharipun berkurang. Sehingga pentahapan terapi selanjutnya akan memberikan akumulasi pemulihan penglihatan lebih cepat dari cara-cara sebelumnya.


Walaupun kasus mata Retinitis Pigmentosa (RP) ini masih belum ada obat ataupun metoda pengobatannya di dunia medis modern, padahal resikonya cepat atau lambat akan mengalami kebutaan (membuat stress bagi para penderita RP), namun metoda SELAC Therapy akan membantu problem RP anda untuk recovery,  jangan putus asa,  insya Allah.

Contact Person : Ir.H.Ansuska Gumanti, +62 812 2024 270, 022-7101921

Kamis, 08 Desember 2016

Diabetes, gula darah tinggi, turun sinifikan setiap 1x proses terapi, alamiah, dan aman.

Pada hari Selasa, 29 November 2016, berkunjung tamu dari Balikpapan, Kalimantan Timur, bapak N, usia 66 tahun, menderita diabetes sudah 20 tahun, mata sudah pernah dioperasi katarak dan sekarang penglihatan mata mulai kabur . Beliau ingin mencoba terapi pengobatan di SELAC Therapy, sampai dengan hari Jum’at, 2 Desember 2016. Kenapa harus mencoba? Menurut beliau sudah darmawisata berobat, namun kasus diabetnya tidak juga tersolusi. Menurut beliau kadar gula darah puasanya mencapai sekitar 250 mg/dL. Bila memang ada kemajuan yang berarti, beliau akan mengatur waktu kunjungan berikutnya untuk kembali melanjutkan pengobatan. Saya jelaskan, SELAC Therapy bukan hanya sekedar menurunkan gula darah, tapi memperbaiki sel-sel yang rusak /recovery.
Setelah kami periksa dengan alat ukur, tekanan darah bapak N tinggi/hipertensi, Systolic/Diastolic, 208/85 mmHg, dengan denyut nadi 87 per menit, dan tanpa keluhan pusing ataupun sakit kepala.
Tanggal 29 – 30 November 2016, mulai dilakukan terapi pada bapak N, 3x sehari, dengan jeda waktu 2 jam setiap setelah selesai diterapi. Sedangkan durasi waktu terapi sekitar 45 menit. Terapi pengobatan dilakukan untuk mata, diabet, dan hipertensi. Setelah terapi yang pertama kali (29 November 2016), diberikan asupan herbal untuk mata, diabet dan hipertensi, agar diminum tiap hari selama proses terapi, herbal akan lebih efektif bila didukung dengan terapi elektro akupresur.
Hari Kamis, 1 Desember 2016, dilakukan kembali terapi pada bapak N sebanyak 2x terapi. Namun sebelum diterapi , jam 09.30 dilakukan pemeriksaan gula darah sewaktu, hasilnya 256 mg/dL.
Kemudian terapi dimulai jam 10.20, dan selesai jam 11.10. Selanjutnya jam 11.29 kembali periksa gula darah sewaktu, hasilnya 192 mg/dL. Terjadi penurunan gula darah sebesar 64 poin, setelah proses terapi.
Terapi selanjutnya jam 13.30 – 14.15.                
Hari Jum’at, 2 Desember 2016, terapi dilakukan sebanyak 2x terapi. Terapi pertama jam 09.15 – 10.00.
Terapi kedua jam 13.00 – 13.30 , namun sebelum terapi yang kedua , pada jam 12.35 dilakukan pemeriksaan kadar gula darah sewaktu, hasilnya 133 mg/dL. Setelah selesai terapi tidak dilakukan lagi pemeriksaan gula darah. Sedangkan tekanan darah yang bisa dicapai saat itu adalah Systolic/ Diastolic 160/81, denyut nadi 83 per menit.
Jadi yang didapat bapak N selama 4 hari menjalani terapi yaitu, penglihatan mata lebih terang, gula darah dan tekanan darah turun signifikan, Alhamdulillah, beliau merasa lebih bugar, bertenaga, dan bersemangat untuk  mengatur waktu kunjungan selanjutnya ke SELAC Therapy, Bandung.

Kontak Person : Ir. Ansuska Gumanti, 022-710 1921, 0811 23 7557/0818 43 7557