SOLUSI SEHAT DENGAN SELAC - HOLISTIK - EFEKTIF - ALAMIAH - AMAN

Senin, 30 Agustus 2021

Denyut jantung kok lemah.

 Pada Ahad 15 Agustus 2021 yang lalu, sekitar jam 14.00 saya dikunjungi bp.DD, 69 thn, biasanya untuk terapi pemeliharaan kesehatan. Sebelumnya beliau cerita bahwa tadi pagi dikolam renang bersama keponakan, dan merasa lebih kuat berenangnya dibandingkan sang keponakan.

Kemudian pertama saya lakukan pemeriksaan dengan oximeter (waspada karena pandemi), kok bunyi (warning). Saya lihat %SpO2 (Saturation of Peripheral) pada angka 98 artinya saturasi oksigen normal namun bpmPR (Pulse Rate Beats per minute) pada angka 44 berwarna merah (normal 60-100 bpm). Rupanya bunyi itu adalah warning untuk denyut jantung yang lemah. Kondisi ini baru pernah saya alami , pengalaman pertama, karena biasanya yang bunyi adalah warning untuk saturasi oksigen. Selanjutnya saya ukur tekanan darah pasien yaitu 129/76, denyut jantung 55. Tekanan darah normal namun denyut jantung kurang. Tindakan yang saya lakukan adalah segera melakukan terapi pada titik REN 17 (titik akupuntur ditengah-tengah dada) dengan menempelkan 2 buah Pad probe pada titik tersebut selama 30 menit (SELAC Therapy/Elektro Akupresur), setelah itu dilanjutkan pada titik REN 14 (titik akupunktur di uluhati) dengan menempelkan 2 buah Pad Probe pada titik tersebut selama 30 menit. Terapi selesai dalam waktu 60 menit, dan tekanan darah kembali di ukur, hasilnya 129/83, denyut jantung 69. Tekanan darah dan denyut jantung normal, artinya sirkulasi jantung menjadi normal. Alhamdulillah, hasil terapi efektif. Kemudian saya berikan Daun Dewa sebagai asupan herbal untuk mendukung perbaikan sirkulasi jantung.

Dengan contoh kasus diatas bisa diambil pelajaran yaitu sebaiknya teman-teman para lansia berhati-hati dalam melakukan aktivitas olahraganya, tidak perlu ngotot, karena kapasitas organ sudah mulai berkurang, cukup sekedar menjaga kesehatan saja, ketimbang beresiko fatal.

Salam sehat

Ansuska Gumanti

Selasa, 04 Agustus 2020

Terapi SELAC (Electrical Medicine)-New

Sinusoidal Electro Acupressure (SELAC),  Elektro Akupresur  atau "Akupunktur Tanpa Jarum" memanfaatkan Pen dan Pad yang berarus listrik kecil dalam mikro Ampere (microcurrent) pada titik-titik di meridian akupunktur.  Merupakan  pengobatan energi, dimana Pen dan Pad dengan arus listrik kecil sekitar 100 mikro ampere (AC), frekuensi sekitar 50 Hz, digunakan dengan kontak langsung pada titik akupunktur di permukaan tubuh, yang akan memberikan pengaruh medan listrik dan medan magnetik, maka energi listrik, energi elektromagnetik yang produktif akan bekerja pada saluran akupunktur (saluran energi) tersebut, sehingga bila ada hambatan yang terjadi pada saluran akupunktur tersebut maka hambatan tersebut dapat diatasi, disirkulasikan oleh energi listrik tersebut.

Pada pemahaman ilmu akupunktur, saluran energi tersebut berhubungan langsung dengan jalan darah dan jalur saraf, oleh karena itu terapi SELAC ini akan meningkatkan serta memperbaiki sirkulasi darah, meningkatkan distribusi oksigen dan mineral-mineral ke sel-sel saraf, merangsang produksi hormon endorphin,  memperbaiki metabolisme sel tubuh secara efektif, dan memperbaiki tulang yang keropos (energi listrik bisa meningkatkan kepadatan tulang). Seperti kita ketahui mekanisme fungsi dari organ-organ, saraf, sel-sel pada tubuh manusia diatur oleh sinyal listrik . Sinyal-sinyal listrik tersebut akan terganggu, berkurang atau melemah bila terjadi cedera maupun akibat penyakit pada tubuh. Oleh karena itu pengobatan dengan menggunakan energi listrik akan lebih mudah untuk memperbaiki sinyal-sinyal listrik tubuh tersebut, sehingga pemulihan tubuh karena cedera maupun penyakit secara alamiah bisa dicapai dengan efektif. Apalagi aplikasinya pada titik-titik akupunktur , yang sudah terdefinisi jalur-jalurnya berdasarkan meridian untuk keseluruh organ-organ tubuh sehingga organ-organ yang bermasalah dapat diperbaiki atau terjadi pemulihan .

Bagaimana keamanan SELAC Therapy? SELAC Therapy sangat aman, karena energi listrik yang digunakan sangat rendah, hanya sekitar 1 Joule sampai dengan 5 Joule (bandingkan dengan alat pacu jantung 200 - 300 Joule). Efektifitas dan keamanannya sudah kami amati sejak tahun 2008, dengan usia pasien 4 tahun - 90 tahun. Waktu terapi 15 menit - 60 menit. Pengobatan didukung dengan asupan herbal (tergantung kasus) untuk membantu mengatasi pendarahan, bengkak, dan infeksi, agar hasil pengobatan bisa optimal.

SELAC Therapypengobatan yang holistik, efektif, alamiah dan aman, bermanfaat untuk memelihara kesehatan dan mengobati penyakit kronis sebagai berikut 

Alzheimer, Autis, Anemia, Autoimun, Cegukan, Demam, Diabetes, Edema, Empedu, Epilepsi, Flu, Ketergantungan obat, Haid (nyeri, tidak teratur), Hipertensi, Hipotensi, Ginjal (Sakit pinggang, Nepritis, Berbatu, Gagal ginjal), Gondok, Hati (Fatty lever, Hepatitis, Sirosis), Hernia, Hidung (Rinitis, Sinusitis), Impoten, Insomnia, Jantung (Koroner, klep jantung), Kandung kemih (susah kencing, sering kencing, infeksi, Prostat bengkak), Kegemukan, Kepala (Migren, Vertigo), Kram, Lutut (sakit/nyeri), Lumpuh, Mandul, Mata (Katarak, Glaukoma, Retinitis Pigmentosa, dll), Mimisan, Paru (Batuk, Asma, Bronchitis, Pulmonary, Edema, TBC, dll), Pencernaan (Radang Lambung, Radang Usus, Sakit perut, Sembelit, Diare, Mual Muntah, Asites, Usus buntu, Gerd, dll), Rahim (Endometriosis, Kista Indung telur, Keputihan, dll), Stroke, Syaraf (Terjepit, Lumpuh wajah, Parkinson, dll), Telinga (Tinitus, ketulian), Tulang-Sendi-Otot (Fibromialgia, Gout, Arthritis, Osteoarthritis, Osteoporosis, dll), Tumor/ Kanker/ Kista / Miom.

Praktisi Terapi SELAC 
Ir. H. Ansuska Gumanti
wa +62 812 2024 270,  +62 818 43 7557

Kamis, 30 April 2020

Herbal (Jamu) ditengah wabah corona covid19


Ada pertanyaan dari teman-teman apakah ada herbal untuk covid19? Karena Covid19 belum ada obatnya dan vaksinnya, sementara wabah sudah berkembang, dan korbanpun makin banyak.
Selama ini, kurang lebih 16 tahun menggeluti pengobatan herbal, yang namanya flu,batuk (biasanya disertai demam), batuk lama, ataupun TBC, saya biasa menggunakan asupan tumbuhan obat (herbal) Ciplukan (Physallis peruviana), Pegagan (Centella  asiatica), Jinten Hitam (Nigella Sativa), Sambiloto (Andrographis paniculata), dan Bidara Upas (Merremia mammosa) dan hasilnyapun efektif, banyak pasien yang tertolong.

Berdasarkan pengalaman, batuk yang bandel (bulanan) dalam waktu sekitar 7 hari kondisi pasien sudah pulih. Batuk yang menahun, dalam 2 minggu bisa reda. Kok bisa demikian ? Herbal diatas padahal levelnya hanya sayur-sayuran, dianggap sebagai suplemen karena tanpa efek samping, namun berdaya obat, sebab kandungan saponin, flafonoid, dan lain-lain yang ada pada herbal mempunyai efek farmakologis sebagai anti infeksi, anti bengkak, anti pendarahan, anti bakteri, anti virus, anti demam, analgesik, anti alergi, anti tumor, Immunostimulant (meningkatkan system kekebalan tubuh terhadap penyakit), dan seterusnya. Jadi tidak aneh bila herbal-herbal tersebut berkhasiat untuk kasus-kasus diatas, dan dengan tanpa efek samping tentunya , serta mudah didapat di seantero Nusantara ini (Nusantara ini kaya dengan rempah-rempah), kecuali Jinten hitam yang harus di import.

Pengalaman terhadap gejala mirip covid19.
Saya tiap minggu biasa bolak-balik Jakarta -Bandung, bahkan sampai akhir bulan Maret 2020, selanjutnya tentu sekarang istirahat di Bandung, mengikuti PSBB.
Nah, saya akan bercerita tentang pengalaman yang mengejutkan buat saya yaitu pada tgl 4 Maret 2020, Rabu siang, saat saya melakukan sholat zuhur, tiba-tiba terasa kekakuan sendi saat rukuk dan sujud yang munculnya terasa mendadak, dan berjalanpun kemudian agak susah, namun karena saya pengobat alhamdulillah bisa segera diatasi. Tapi besoknya tgl 5 Maret 2020, Kamis malam, sekitar jam 20.00 terasa sedikit batuk, disertai tubuh menggigil, demam, diukur suhu 37.5 degC (biasanya 35.8 degC), jalanpun terasa goyang. Kemudian saya minum herbal Pegagan, Ciplukan, dan Jinten hitam masing-masing 2 kapsul. Alhamdulillah dalam 1,5 jam kondisi sudah terasa normal kembali, dan saya ukur suhu tubuh 36 degC. Namun herbal tetap saya minum terus sampai dengan hari Senin, 9 Maret 2020, dan gejala-gejala sebelumnya tidak pernah muncul lagi, baik batuk maupun demam. Apakah saya kena covid19 karena gejalanya mirip? Tapi saat itu Indonesia belum heboh sekali dengan covid19, wallahu alam.

Oleh karena itu kembali merespon pertanyaan teman-teman, agar bisa tenang dan tidak panik menghadapi wabah covid19, dan bisa memelihara kesehatan tubuh, namun tidak panik bila penyakit tersebut datang menghampiri, atau bisa digunakan sebagai teman saat melakukan isolasi diri.
Saya akan paparkan cara membuat resep herbal diatas dengan cara yang sederhana, praktis, murah dan mudah didapatkan di Nusantara ini.
Sediakan bahan kering rempah-rempah sebagai berikut : Ciplukan (Physallis peruviana), Pegagan (Centella  asiatica), dan Jinten Hitam (Nigella Sativa). Bahan bisa didapatkan pada penjual rempah jamu di Pasar Tradisional atau pada tempat-tempat tertentu penjual rempah jamu, namun harus diperhatikan bahwa Jinten Hitam rasanya harus pahit, jangan keliru beli karena khasiatnya nanti berbeda (ada yang serupa dengan Jinten Hitam tapi tidak pahit, Nigella Damacean).
Ambil masing-masing bahan 10 gram kering. Setelah itu rebus dengan 4 gelas air (gunakan panci stainless steel) hingga menjadi 2 gelas air (setelah mendidih airnya, kecilkan apinya), kemudian saring dan siap untuk diminum.
Untuk preventif, cukup minum 1/3 bagian saja dalam sehari, sisanya simpan di ruang dingin (bila ingin minum lagi bisa dihangatkan). Namun untuk curatif minumnya 3x 1/3 bagian dalam sehari (3x minum, pagi, siang dan malam, bagi yang shaum minum saat buka, saat mau tidur dan saat sahur). Agar lebih efektif, ramuan diminum satu jam sebelum makan (saat perut kosong). Apabila kondisi kasus agak parah, tambah campuran herbal diatas dengan Sambiloto (Andrographis paniculata), dan Bidara Upas (Merremia mammosa) masing-masing 10 gram juga. Insya Allah dalam waktu 7 hari sudah recovery.

Resep ini sudah biasa kami gunakan untuk flu-batuk yang disertai demam , dan batuk yang berbulan-bulan susah sembuh, serta TBC.  Selamat mencoba, insya Allah efektif.

Catatan : Bagi yang malas rebus-merebus bisa menggunakan herbal yang sudah ada didalam kapsul (lebih baik kualitas ekstrak, bukan serbuk). Harusnya bisa didapatkan pada toko-toko penjual herbal yang terdekat dengan lokasi anda.



Kamis, 09 Mei 2019

Terapi SELAC (Electrical Medicine)

Sinusoidal Electro Acupressure (SELAC), Elektro Akupresur atau "Akupunktur Tanpa Jarum", memanfaatkan pen yang berarus listrik kecil dalam mikro Ampere (microcurrent) pada titik-titik di meridian akupunktur.  Merupakan  pengobatan energi, dimana pen dengan arus listrik kecil sekitar 100 mikro ampere (AC), frekuensi sekitar 50 Hz, digunakan dengan kontak langsung pada titik akupunktur di permukaan tubuh, yang akan memberikan pengaruh medan listrik dan medan magnetik, maka energi listrik, energi elektromagnetik yang produktif akan bekerja pada saluran akupunktur (saluran energi) tersebut, sehingga bila ada hambatan yang terjadi pada saluran akupunktur tersebut maka hambatan tersebut dapat diatasi, disirkulasikan oleh energi listrik tersebut.

Pada pemahaman ilmu akupunktur, saluran energi tersebut berhubungan langsung dengan jalan darah dan jalur saraf, oleh karena itu terapi SELAC ini akan meningkatkan serta memperbaiki sirkulasi darah, meningkatkan distribusi oksigen dan mineral-mineral ke sel-sel saraf, merangsang produksi hormon endorphin,  memperbaiki metabolisme sel tubuh secara efektif, dan memperbaiki tulang yang keropos (energi listrik bisa meningkatkan kepadatan tulang). Seperti kita ketahui mekanisme fungsi dari organ-organ, saraf, sel-sel pada tubuh manusia diatur oleh sinyal listrik . Sinyal-sinyal listrik tersebut akan terganggu, berkurang atau melemah bila terjadi cedera maupun akibat penyakit pada tubuh. Oleh karena itu pengobatan dengan menggunakan energi listrik akan lebih mudah untuk memperbaiki sinyal-sinyal listrik tubuh tersebut, sehingga pemulihan tubuh karena cedera maupun penyakit secara alamiah bisa dicapai dengan efektif. Apalagi aplikasinya pada titik-titik akupunktur , yang sudah terdefinisi jalur-jalurnya berdasarkan meridian untuk keseluruh organ-organ tubuh sehingga organ-organ yang bermasalah dapat diperbaiki atau terjadi pemulihan .

Bagaimana keamanan SELAC Therapy? SELAC Therapy sangat aman, karena energi listrik yang digunakan sangat rendah, hanya sekitar 1 Joule sampai dengan 5 Joule (bandingkan dengan alat pacu jantung 200 - 300 Joule). Efektifitas dan keamanannya sudah kami amati sejak tahun 2008, dengan usia pasien 4 tahun - 90 tahun. Waktu terapi 15 menit - 60 menit. Pengobatan didukung dengan asupan herbal (tergantung kasus) untuk membantu mengatasi pendarahan, bengkak, dan infeksi, agar hasil pengobatan bisa optimal.

SELAC Therapy, pengobatan yang holistik, efektif, alamiah dan aman, bermanfaat untuk memelihara kesehatan dan mengobati penyakit kronis sebagai berikut

Alzheimer, Autis, Anemia, Autoimun, Cegukan, Demam, Diabetes, Edema, Empedu, Epilepsi, Flu, Ketergantungan obat, Haid (nyeri, tidak teratur), Hipertensi, Hipotensi, Ginjal (Sakit pinggang, Nepritis, Berbatu, Gagal ginjal), Gondok, Hati (Fatty lever, Hepatitis, Sirosis), Hernia, Hidung (Rinitis, Sinusitis), Impoten, Insomnia, Jantung (Koroner, klep jantung), Kandung kemih (susah kencing, sering kencing, infeksi, Prostat bengkak), Kegemukan, Kepala (Migren, Vertigo), Kram, Lutut (sakit/nyeri), Lumpuh, Mandul, Mata (Katarak, Glaukoma, Retinitis Pigmentosa, dll), Mimisan, Paru (Batuk, Asma, Bronchitis, Pulmonary, Edema, TBC, dll), Pencernaan (Radang Lambung, Radang Usus, Sakit perut, Sembelit, Diare, Mual Muntah, Asites, Usus buntu, Gerd, dll), Rahim (Endometriosis, Kista Indung telur, Keputihan, dll), Stroke, Syaraf (Terjepit, Lumpuh wajah, Parkinson, dll), Telinga (Tinitus, ketulian), Tulang-Sendi-Otot (Fibromialgia, Gout, Arthritis, Osteoarthritis, Osteoporosis, dll), Tumor/ Kanker/ Kista / Miom.

Praktisi Terapi SELAC 
Ir. H. Ansuska Gumanti
wa +62 812 2024 270,  +62 818 43 7557



Senin, 14 Januari 2019

Testimoni RP (Retinitis Pigmentosa) dan Buta warna, Januari 2019


Pada tgl 17 Desember 2018 , Bpk Muhammad Amin 46 tahun, Guru SMK , di Tanah Bumbu Kalimantan Selatan, berkunjung ke Bandung untuk berobat mata. Keluhannya Retinitis Pigmentosa sesuai dengan hasil pemeriksaan fundus mata oleh medis (Poliklinik Retina , RSUD Ulin Banjarmasin, 19-7-2012).

Sebelum diterapi dilakukan test buta warna dengan referensi Ishihara Color Blindness Test, ternyata Bpk Amin ini juga mengalami buta warna , hanya bisa melihat satu angka saja yaitu angka 12 (satu angka dari lima belas angka). Tekanan darah 118/78, 64.
Terapi dilakukan mulai tgl 17 Desember 2018 sampai dengan tgl 4 Januari 2019. Setiap hari dilakukan 3x terapi, kecuali hari Jum’at hanya 2x terapi, hari Sabtu dan Minggu waktu istirahat untuk terapi. Total terapi yang ditempuh adalah 42x terapi.

Setelah terapi pertama, Bpk Amin merasa pandangannya lebih baik, tadinya pandangan hanya berjarak 20 meter kemudian bisa lebih jauh menjadi sekitar 50 meter. Selanjutnya setelah 3x terapi pada hari pertama yang bersangkutan sudah bisa berjalan malam dengan pandangan lebih jelas, padahal sebelumnya sudah tidak mampu untuk berjalan malam (akan menabrak-nabrak). Melihat “sms” dan “wa” di ponsel yang sebelumnya tidak bisa, setelah 4x terapi sudah bisa melakukan sms ataupun wa di ponsel dengan jelas. Setelah menjalani terapi tiap hari pandangan mata makin baik . Mata kiri yang lebih parah, melihat tayangan di TV saja kabur, akhirnya bisa melihat tayangan TV dengan lebih jelas, namun masih kesulitan membaca tulisan yang tertayang dibagian bawah TV. Sedangkan mata kanan, sebelumnya terasa pandangannya ada penghalang, akhirnya menjadi terang pandangannya (tanpa penghalang). Kemudian halangan dijalan (polisi tidur) sudah kelihatan dalam jarak 50 meter, yang sebelumnya tidak terlihat alias suka tersandung. Setelah mencapai 40x terapi pada test buta warna sudah bisa membaca/melihat 3 angka dari 15 angka, artinya terjadi perbaikan pada pandangan buta warna. Alhamdulillah, secara keseluruhan perjuangan bpk Muhammad Amin ini untuk memperbaiki penglihatan matanya terjadi perbaikan yang sangat berarti, untuk mendukung aktifitas sehari-hari, terutama untuk mengajar, karena beliau sebagai guru.

Kesimpulan : Metoda yang kami kembangkan SELAC (Sinusoidal Electro Acupressure ), yaitu Akupunktur tanpa jarum, menggunakan microcurrent pen, terbukti bisa memperbaiki kasus mata (Retinitis Pigmentosa, Buta Warna, dan lain-lain). Solusi efektif, alamiah, dan aman.

Silahkan menyimak video testimoninya yang direkam saat selesai 40x terapi (3 Januari 2019).


Kamis, 04 Oktober 2018

Sekilas penyakit yang berhubungan dengan autoimun

Penyakit autoimun terjadi apabila sistem kekebalan tubuh seseorang berbalik menyerang sel-sel sehat dalam tubuhnya atau system kekebalan tubuh itu menyerang dirinya sendiri.  Jadi akan menyebabkan kekacauan pada sistem  pertahanan tubuh  penderita tersebut,  seharusnya sistem kekebalan tubuh itu sebagai pertahanan tubuh dalam melawan penyakit seperti bakteri, virus, dan sel-sel asing lainnya. Akibatnya kesehatan tubuh akan bermasalah berkepanjangan, lemas, kurang tenaga, nyeri, dan lain-lain keluhan.
Bila seseorang divonis menderita autoimun biasanya akan menjadi panik/stress, dan ketakutan, karena merasa penyakitnya susah disembuhkan/tidak bisa disembuhkan oleh para medis.  
Penyakit yang berkenaan dengan autoimun saat ini ada 151 macam penyakit, berdasarkan daftar list pada AARDA (American Autoimmune Related Diseases,   www. aarda.org).

Pengalaman pengobatan kami dengan penyakit-penyakit yang berkenaan dengan autoimun adalah dengan menggunakan Tehnik Akupoin dan Herbal (Tumbuhan Obat Indonesia).

Tehnik akupoin untuk sekian banyak terapi tubuh sudah terdefinisi sejak ribuan tahun (basis akupunktur, pengobatan cina kuno) seperti memperbaiki sistem darah, sistem organ, tulang, sendi, dan sebagainya. Dengan  menggunakan  Microcurrentpen  hasilnya efektif, nyeri-nyeri tubuh akan teratasi, dan pemulihan tenaga akan berlangsung cepat, serta aman (SELAC Theraphy).

Herbal dibutuhkan karena ada infeksi, peradangan, dan pembengkakan.  Kenapa  herbal? Karena banyak penderita yang tidak kuat dengan efek samping obat sintetis (obat kimia), akibatnya penderita akan makin menderita, oleh karena itu akan aman menggunakan herbal karena tidak punya efek samping seperti obat kimia. Dengan memberikan herbal yang sesuai kebutuhan, dosis yang tepat  hasilnya akan lebih efektif dan aman.

Kasus Fibromialgia (autoimun).
  1. 28 Juni 2011 – 4 Juli 2011DM, laki, 13 tahun, New Jersey – Amerika, berkunjung ke Bandung. Menderita Fibromialgia sudah 7 bulan, sudah ditangani oleh 5 dokter spesialis dan akupunktur di New Jersey, namun hasilnya nihil. Keluhan berjalan terus, tiap bangun  pagi  semua  sendi-sendinya terasa sakit, sehingga sudah  mengganggu  aktifitas  sekolah. Pengobatan/ terapi dilakukan tiap hari (pagi dan sore) selama seminggu, dengan dibantu asupan herbal anti nyeri, anti radang, anti bakteri, anti virus dan yang meningkatkan imunitas. Alhamdulillah, DM pulih dalam waktu seminggu. Sampai sekarang DM sehat dan tidak pernah kambuh.
  2. 17 Juni 2017 – 2 September 2017, EN, wanita, 38 tahun, ibu rumah tangga, Jakarta. Keluhan sejak tahun 2015. Menurut dokter medis yang bersangkutan menderita autoimun dan tidak bisa disembuhkan. Hasil periksa lab semua normal, namun bila kambuh penyakitnya bisa tidak beraktifitas rumah tangga karena kesakitan akibat nyeri. Saat datang pertama EN dalam kondisi lemas, namun setelah dilakukan 1x terapi yang bersangkutan sudah bertenaga, tidak lemas lagi. Terapi dilakukan sebanyak 32x, serta diberikan asupan herbal. Alhamdulillah EN pulih total.

Kasus Glomerulonephritis (autoimun).
     5 April 2018 – 24 Agustus 2018 D (Rama), laki, 15 tahun, Bandung, menderita  Glomerulonephritis. 
      Glomerulonephritis ini salah satu penyakit yang berhubungan dengan autoimun. Penyakit ini menyebabkan peradangan pada bagian ginjal yang menyaring darah. Dikenal juga dengan nama Sindrom Nefrotik atau Ginjal Bocor (silahkan baca artikel tgl 27 April 2018 “Ginjal Bocor sharing dari sobat Bambang S Noor”, curhat sang ayah).

Gejala Glomerulonephritis : Darah atau protein dalam urin (hematuria, proteinuria), urin berwarna coklat, tekanan darah tinggi, pembengkakan pada wajah, perut, dan pergelangan kaki, air kencing berbusa, kencing lebih sedikit dari biasanya, pada pagi hari wajah bengkak.
Terapi dilakukan tiap hari 1x, Senin s/d Jum’at. Selama waktu pengobatan 2x terjadi kekambuhan. 

Pertama, setelah kondisi merasa pulih, Rama makan asupan protein (daging sapi) berlebihan (lupa pantangan), sehingga penyakit kambuh lagi, bengkak dan demam. 
Kedua, makan asupan Jengkol, ternyata mengakibatkan penyakit makin parah (urinalisis +++). Tubuh bengkak dengan bobot 118 kg.

Obat-obatan kimia semua dihentikan, karena yang bersangkutan tidak kuat/sensitif terhadap efek samping obat yang menyebabkan penyakit akan menjadi parah. Jadi semua obat menggunakan herbal (diuretic, antiradang, anti bengkak).

Alhamdulillah, setelah berobat selama 4,5 bulan, Rama pulih total. Berat tubuh 90 kg, turun 28 kg. . Verifikasi pemeriksaan lab. 6 September 2018, Hb 15,9 (12,0 – 16,0), Kreatinin 0,8 (0,67-1,17), eGFR 138,9 (110-170) artinya kondisi Ginjal Normal dan Glomerulonephritis recovery

Kesimpulan : 
Penderita penyakit yang berhubungan dengan autoimun masih punya prospek untuk total recovery , salah satunya  dengan  SELAC Therapy, menggunakan Tehnik Akupoin (akupunktur tanpa jarum, dengan Microcurrentpen) dan Herbal Indonesia.

Kamis, 09 Agustus 2018

Catatan terapi kasus mata : AMD atau ARMD (Age Related Macular Degeneration)

Pada hari Senin, 30 Juli 2018 jam 08.35 berkunjung H, laki, 25 tahun, domisili Sorong, Papua. Keluhan mata katanya RP (Retinitis Pigmentosa), namun setelah dicermati kondisinya adalah AMD (Age Related Macular Degeneration) atau ARMD, karena pandangan mata yang terganggu (tidak bisa melihat) adalah pada pandangan mata tengah (lihat foto fundus mata). Menurut yang bersangkutan ada penghalang didepan mata, yaitu semacam material putih sehingga obyek yang terlihat hanya nampak seperti siluet saja, dan bila terpapar cahaya matahari terasa silau sekali .

Keluhan mata sudah mulai terasa sejak 5 tahun lalu. Pasien H bermaksud mencoba terapi SELAC sekitar seminggu untuk mengetahui sampai seberapa jauh kemungkinan perbaikan matanya, karena dengan cara medis yang dia dapat informasinya belum bisa disembuhkan alias belum ada obatnya. Namun kami memberikan estimasi  sekitar 10x terapi – 20x terapi pandangan mata sudah tersolusi dengan memadai, dan kami janjikan bila 5x terapi tidak ada perubahan sama sekali, maka biaya berobat (terapi + herbal) akan dikembalikan.

Pertama-tama dilakukan pemeriksaan tekanan darah pasien H, tekanan darah 127/76 mm.Hg (normal), sedangkan hasil diagnosa dari lidah yang bersangkutan, diketahui lever dan ginjal terganggu , gangguan tersebut korelasinya ke mata, yang  akan mempengaruhi atau mengganggu fungsi mata yang bersangkutan.  Oleh karena itu sumber masalah tersebut harus diperbaiki sekalian dengan lokasi matanya, agar proses pemulihan bisa berhasil.  
Kemudian jam 09.00  terapi pertama dilakukan 60 menit (akupoin DU-20,GB-20, LR-3,K-1, BL-1, GB-1, ST-1). Hasil terapi pertama belum terjadi perbaikan pada pandangan tengah. Terapi kedua jam 15.30 dilakukan 90 menit (akupoin DU-20, DU-16, LR-3, K-1, Ex. Tai Yang, BL-1, GB-1, ST-1), hasil terapi kedua juga masih belum terjadi perbaikan pada pandangan tengah. Selasa 31 Juli 2018 jam 09.00 terapi ketiga dilanjutkan 60 menit (akupoin Ex. Tai Yang, BL-1, BL-2), hasil terapi ketiga mulai memberikan perbaikan mata pada pandangan tengah, demikian menurut yang bersangkutan, alhamdulillah.  Selanjutnya Rabu 1 Agustus 2018 ja 09.00 dilakukan terapi keempat selama 60 menit, dan jam 14.30 dilakukan terapi yang kelima selama 60 menit. Kamis, 2 Agustus 2018 jam 09.00 dilakukan terapi yang keenam. Terapi ketujuh dilanjutkan Senin 6 Agustus 2018 jam 09.00 selama 60 menit, dan terapi kedelapan jam 14.00 selama 60 menit. Perbaikan pandangan mata tengah setelah terapi kedelapan menurut pasien H sekitar 20 %, katanya dengan perasaan sangat lega, karena kasus matanya ternyata masih bisa diperbaiki, dan yang bersangkutan pamit untuk pulang ke daerahnya, dan rencana akan melanjutkan terapi mata pada waktu yang memungkinkan.


SELAC Therapy, akupunktur  tanpa jarum, dengan menggunakan  microcurrent pen, efektif, aman, dan alamiah untuk solusi problem kesehatan, insya Allah.